Nama : Fadhilah Amin
NIM : 932506315
Tulisan ini saya ambil dari buku Pesantren Madrasah dan Sekolah yang di tulis oleh Karel Steenbrink yang mana dalam buku tersebut membahas perjalanan historis lembaga pendidikan Islam dan buku dosen saya bapak Anis Humaidi yang kebetulan mengisi materi di kelas tarjamah Indonesia - Arab dengan teks pondok pesantren.
NIM : 932506315
Tulisan ini saya ambil dari buku Pesantren Madrasah dan Sekolah yang di tulis oleh Karel Steenbrink yang mana dalam buku tersebut membahas perjalanan historis lembaga pendidikan Islam dan buku dosen saya bapak Anis Humaidi yang kebetulan mengisi materi di kelas tarjamah Indonesia - Arab dengan teks pondok pesantren.
Sebagaimana yang kita sama-sama ketahui bahwa negara Indonesia kuno terdapat banyak sekali para cendekiawan-cendekiawan Islam, para ulama dan para kyai yang hidup di tahun 1970an sudah berupaya membangun intelektual masyarakat Indonesia dengan berbagai cara, salah satu di antara nya adalah dengan membangun pesantren.
Untuk mendapatkan wawasan dan pengetahuan yang banyak para pemuda Indonesia tidak sedikit yang menimba ilmu di luar negri tepatnya di negri sumber agama Islam itu muncul. Di antara pemuda-pemuda Indonesia yang menjadi tokoh sejarah pembangun spritiual dan intelektual bangsa kita adalah KH. Hasyim Asy'ari dan KH. Ahmad Dahlan. Setelah kepulangan merekalah usaha untuk membangun intelektual dan spiritual masyarakat di hidupkan, salah satunya adalah dengan membangun pesantren.
A. Pengertian Pesantren
Secara termonologis dapat dijelaskan bahwa pendidikan pesantren dilihat dari segi bentuk dan sistemnya, berasal dari India. Sebelum proses penyebaran Islam di Indonesia, sistem tersebut telah dipergunakan secara umum untuk pendidikan dan pengajaran agama Hindu di Jawa. istilah pesantren sendiri seperti halnya mengaji bukanlah berasal dari istilah Arab, melainkan dari India. demikian juga istilah pondok, langgar di Jawa, surau di Minangkabau dan rangkang di Aceh bukanlah merupakan istilah Arab, tetapi dari istilah yang terdapat di India.
Namun di sisi lain Soegarda Poerbakawatja yang mengatakan kalau sistem pendidikan pesantren itu dari Hindu dan bukan dari Islam ternyata kurang tepat. Karena sistem tersebut di temukan di dunia Islam. begitu juga kebiasaan santri yang sering mengadakan perjalanan yang di temukan di Jawa ternyata di temukan pula di dalam tradisi Islam.
Mahmud Junus menyatakan bahwa asal-usul pendidikan individual yang dipergunakan dalam pesantren contohnya bahasa Arab ternyata dapat di temukan di Bagdad ketika menjadi pusat ibu kota Islam.
Secara termonologis dapat dijelaskan bahwa pendidikan pesantren dilihat dari segi bentuk dan sistemnya, berasal dari India. Sebelum proses penyebaran Islam di Indonesia, sistem tersebut telah dipergunakan secara umum untuk pendidikan dan pengajaran agama Hindu di Jawa. istilah pesantren sendiri seperti halnya mengaji bukanlah berasal dari istilah Arab, melainkan dari India. demikian juga istilah pondok, langgar di Jawa, surau di Minangkabau dan rangkang di Aceh bukanlah merupakan istilah Arab, tetapi dari istilah yang terdapat di India.
Namun di sisi lain Soegarda Poerbakawatja yang mengatakan kalau sistem pendidikan pesantren itu dari Hindu dan bukan dari Islam ternyata kurang tepat. Karena sistem tersebut di temukan di dunia Islam. begitu juga kebiasaan santri yang sering mengadakan perjalanan yang di temukan di Jawa ternyata di temukan pula di dalam tradisi Islam.
Mahmud Junus menyatakan bahwa asal-usul pendidikan individual yang dipergunakan dalam pesantren contohnya bahasa Arab ternyata dapat di temukan di Bagdad ketika menjadi pusat ibu kota Islam.
Mujamil Qomar mengidentifikasi asal-usul pesantren ini menjadi tujuh teori : pertama menyatakan bahwa pondok pesantren adalah tiruan atau adaptasi terhadap pendidikan Hindu dan Budha sebelum datangya Islam di Indonesia. Kedua pesantren berasal dari India. Ketiga model pendidikan pesantren ditemukan di Baghdad. Keempat sistem pendidikan berasal dari perpaduan antara Hindu-Budha (pra Islam di Indonesia) dan India. Kelima pesantren merupakan gabungan Hindu-Budha dan Arab. Keenam pesantren berasal dari India dan Islam Indonesia. Ketujuh pesantren dari India, Timur Tengah, dan tradisi lokal yang sudah tua.
Istilah lain dari pesantren adalah pondok. Istilah pondok berasal dari bahasa Arab "funduk" (فندوق) yang berarti penginapan. Khusus di Aceh, pesantren disibut juga dengan nama dayah. Pendapat lainnya, pesantren berasal dari kata santri yang dapat diartikan tempat santri. Kata santri berasal dari kata cantrik (bahasa sansakerta, atau jawa) yang berarti orang yang selalu mengikuti guru, yang kemudian dikembangkan oleh Perguruan Taman Siswa dalam sistem asrama yang disebut Pawitan.
Sedangkan C.C Berg berpendapat bahwa istilah santri itu berasal dari kata sashtri, yang dalam bahasa India berarti orang yang tahu buku-buku suci agama Hindu atau seorang ahli kitab suci agama Hindu.
B. Sistem Pendidikan Pesantren
Sebagai lembaga pendidikan tentunya pesantren memiliki tujuan yang hendak dicapai, hanya saja sampai hari ini belum ada rumusan tujuan pendidikan pesantren yang baku. Biasanya masing-masing pesantren memiliki tujuan pendidikannya sendiri-sendiri sesuai dengan selera kyai yang mengasuh pondok tersebut. sekalipun sampai saat ini belum ada keragaman tujuan namun sebenarnya ada tujuan yang secara umum setiap pondok menyepakatina yaitu sebagaimana yang tertera dalam kitab ta'lim muta'allim
وينبغى أن ينوي المتعلم بطلب العلم رضا الله تعالى والدار الأخرة وازلة الجهل عن نفسه وعن سائر الجهال واحياء الدين وابقاء الإسلام
Artinya : Bahwa seyogyanya seorang santri dalam mencari ilmu mengharap ridla Allah dan hari akhir, menghilangkan kebodohan dari dirinya dan dari orang-orang yang bodoh, menghidupkan agama dan menetapkan Islam.
Bila dilihat dari redaksinya, tujuan pendidikan pesantren ini sangat luas, sehingga sulit sekali di ukur keberhasilannya. Kebanyakan tidak memiliki rumusan tujuan yang spesifik, hal ini menurut Nurcholis Majid merupakan kelemahan dari sistem pendidikan pesantren sehingga tujuannya tidak dapat tertuang dalam tahapan-tahapan rencana kerja atau program.
Tidak adanya rumusan yang jelas itu dikarenakan adanya kecenderungan visi dan tujuan pesantren diserahkan pada proses improvisasi yang dipilih sendiri oleh seorang kyai atau bersama pembantu-pembantunya secara intuitif yang disesuaikan dengan perkembangan pesantrennya. Kalau kyainya menguasai bidang fiqih maka kecenderungan tujuan pendidikan pesantrennya menjadikan santri-santri alim dalam bidang fiqih, demikian juga kalau kyainya alim dalam bidang yang lainnya seperti nahwu atau lainnya santrinya akan digiring pada keahlian kyai tersebut.
C. Metode Pembelajaran Pesantren
Di pondok pesantren ada dua jenis metode pembelajaran yang sangat terkenal yaitu metode sorogan dan metode bandongan. Metode sorogan adalah seorang murid datang pada guru yang akan membacakan beberapa baris Al-Quran atau kitab-kitab yang berbahasa Arab dan menterjemahkan menggunakan bahasa jawa. Pada gilirannya murid mengulangi dan menterjemahkan kata demi kata persis seperti yang dibacakan oleh gurunya.
Metode ini memiliki banyak kelebihan, diantaranya murid mendapat perhatian utuh dari seorang kiyai atau guru, murid akan belajar dengan sungguh-sungguh karena akan malu kalau tidak lancar membaca di hadapan kyainya. Murid bisa menghafalkan mufradat dan memahami gramatikal bahasa Arab dengan cepat dan mudah serta guru dapat menilai dan membimbing murid. Sistem sorogan ini menurut Dhofier merupakan bagian yang paling sulit dari keseluruhan sistem pendidikan Islam tradisional sebab ini menuntut kesabaran, kerajinan, ketaatan dan disiplin dari murid.
Namun demikian bukan berarti metode ini tidak memiliki kekurangan diantara kekurangan dari metode ini adalah memerlukan tenaga dan waktu yang banyak sehingga tidak efektif jika jumlah santri banyak dan ustadz atau kyai hanya sedikit.
Sedangkan metode bandongan atau weton adalah kelompok murid antara 5 sampai 500 orang mendengarkan seorang guru yang membaca, menerjemahkan, menerangkan dan seringkali mengulas buku-buku Islam dalam bahasa Arab. Setiap murid memperhatikan bukunya sendiri-sendiri dan membuat catatan-catatan baik arti maupun keterangan tentang kata-kata atau keterangan yang sulit. Dalam kegiatan ini tidak ada absen, santri boleh tidak datang dan boleh tidak, juga tidak ada kenaikan kelas. Dalam metode ini tidak ada evaluasi. Bagi santri yang sudah khatam bisa berpindah ikut pengajian kitab yang atasnya.
Selain kedua metode ini Imron Arifin menambahkan lagi tiga metode yang lainnya yaitu Muhawarah, Mudazakarah, dan Majlis Ta'lim. Muhawarah adalah latihan berbicara bahasa Arab. Sedangkan Mudzakarah adalah pertemuan ilmiah untuk membahas masalah-masalah diniyah seperti ibadah dan akidah. Majlis Ta'lim adalah pengajian umum yang diikuti oleh santri sedangkan kyai berpidato dengan memberikan petuah-petuah.







Tidak ada komentar:
Posting Komentar