Nama : Fadhilah Amin
NIM : 9325063
A. Pengertian
Qiro’a
Qiro’ah dari segi bahasa adalah
bacaan. Sedangkan menurut istilah qiro’ah adalah suatu madhab yang di anut oleh
seorang imam dalam membaca Al Quran yang berbeda satu dengan yang lainnya dalam
pengucapan Al Qur’an serta di sepakati riwayat dan jalurnya, baik perbedaan
dalam pengucapan huruf atau lafadnya.
Al Jazari
mengartikan Qiro’ah sebagai pengetahuan tentang cara-cara melafalkan kalimat Al
Qur’an dengan menyandarkan kepada penukilnya. Menurut Muhammad Maksil Arsyad
perintis ilmu Qiro’ah diantarnya adalah, Abu Ubaid Al Qossim Ibnusalam, Abu
Hatim Assajistani, Abu Ja’far Attobari dan Isma’il Al Qodi.
B. Perbedaan Dalam Qiro’ah
Ada beberapa macam madhab dalam ilmu
Qiro’ah sedangkan madhab Qiro’ah yang sangat populer adalah Qiro’ah Sab’ah,
Qiro’ah Asyaroh, Qiro’ah Arba’a Asyroh. Terjadinya perbedaan madhab Qiro’ah ini
disebabkan oleh perbedaan intelektual serta kesempatan masing-masing sahabat
dalam mengetahui dan membaca Al Quran.
Faktor lain yang menyebabkan
terjadinya perbedaan membaca Al Quran adalah hal tulisan. Qiroah yang paling
terkenal adalah Qiro’ah sab’ah, di sebut qiroah sab’ah karena merujuk kepada 7
imam yang sangat terkenal. 7 imam tersebut adalah sebagai berikut :
1. Abu Ma’bad Muhammad Abdullah bin Kadir bin Umar bin
Zadin Al Daari Al Makki. Di kenal sebagai nama Ibnu Kadir dari Mekkah.
2. Abu Nu’aim Nafi’ bin Abdurrahman bin Abu Nu’aim Al
Laitsi. Di kenal Imam Nafi’ dari Isfahan.
3. Imam Ashim bin Abi Ruju’ bin Bahdalah Al Asadi Al
Kufi.
4. Abu Imaroh Hamzah bin Habib Azzayad Al Fadi At Taimi
dari Kufah.
5. Abu Hasan Ali bin Hamzah bin Abdullah bin Fairuz Al
Farisi Al Khuzai An Nahwi dari Kufah.
6. Abu Amr Zabban bin Al A’la bin Ammar dari Basroh
7. Imam Abu Nu’aim Abu Imron Abdullah bin Amir Asyafi’i
dari Damaskus.
C. Perkembangan Ilmu Qiro’ah
Pada dasarnya ilmu qiroah sudah ada
sejak zaman Rosulullah SAW. Hanya saja, pada saat itu ilmu qiroah terbatas pada
sahabat yang secara khusus menekuni bacaan Al Quran, mengajarkan dan
mempelajarinya. Para sahabat ini selalu ingin mengetahui ayat yang di turunkan
kepada Rasulullah. Untuk itu, mereka kemudian menghafalkannya bahkan membacakannya
dihadapan Nabi untuk di simak.
Ilmu Qiroah baru di bukukan pada abad
ke 3 hijriah. Para ahli sejarah mengatakan bahwa orang yang berjasa menuliskan
ilmu qiroah adalah Imam Abu Ubaid Al Qosim bin Salam. Ia menulis yang
menghimpun qira’ah dari 25 orang rawi, dan menamainya dengan kitab qiro’ah.
Menurut Ibnu Jazari, antusiasme para
ulama terhadap ilmu qiroah di latar belakangi oleh maraknya kebohongan yang di
lakukan para musuh islam terhadap Al Quran. Pada saat yang bersamaan, ilmu
mengenai Al Quran dan Hadist sudah memiliki cabang. Alasan lainnya adalah
berkaitan dengan kaum muslim yang sangat memerlukan ilmu qiroah sebagai upaya
menjaga dan memelihara Al Quran dari perubahan dan pemutar balikan yang di
lakukan oleh musuh-musuh Islam.
Para membuat beberapa persyaratan
untuk menentukan qiroah yang benar dan di terima serta yang salah dan harus di
tolak. Beberapa persyaratan itu adalah sebagai berikut
1. Qiroah harus
sesuai dengan kaidah bahasa arab.
2. Qiroah harus sesuai
dengan salah satu mushaf Utsmani.
3. Qiroah harus
sohih sanadnya.
Dalam menentukan kesohihan sanad
qiroah, Ibnu Jazari membuat beberapa kelompok :
1. Qiroah
Mutawatir, Yakni qiroah yang diriwayatkan oleh sejumlah
rawi yang banyak dan juga periwayat yang banyak pula, sehingga tidak mungkin
mereka bersepakat untuk berdusta. Qiroah sab’ah menurut jumhur ulama’ termasuk
qiraah yang mutawatir.
2. Qiroah
Masyhur, yaitu
qiroah yang sanadnya bersambung, tetapi hanya diriwayatkan oleh seorang atau
beberapa orang yang adil dan tsiqah, sesuai dengan bahasa arab, sesuai
dengan salah satu mushaf Utsmani baik berasal dari imam 7, 10 atau yang lain
yang diakui.
3. Qiraah Ahad, yaitu qiroah yang sanadnya sohih tapi
menyalahi mushaf Utsmani atau kaidah bahasa arab, atau tidak populer seperti
qiroah mutawati dan masyhur. Qiroah ini tidak boleh di baca dan tidak wajib di
yaikini seperti riwatnya Al Hakim dari Ashim Al Jahbari dari Abi Bakroh yang
menyatakan bahwa Rasulullah pernah membaca لَقَدْ جَاءَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ dengan لَقَدْ
جَاءَكُمْ مِنْ أَنْفَسِكُمْ
.
4. Qiroah Syad, yakni qiroah yang sanadnya cacat dan
tidak bersambung kepada Rasulullah.
5. Qiroah
Maudu’, yakni qiroah
yang di nisbatkan kepada seseorang tanpa dasar.
6. Qiroah
Mudraj, yakni qiroah
yang di dalamnya terdapat lafad atau kalimat tambahan yang biasanya di jadikan
penafsiran bagi ayat Al Quran, seperti qiroah Ibnu Abbas ; ليس عليكم جناح أن تبتغوا فضلا من ربكم yang kemudian di tambah dengan kalimat في مواسم الحج .