• This is default featured slide 1 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 2 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 3 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 4 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 5 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

4 SEMPALAN AQIDAH DALAM ISLAM

Bismillahirrahmaanirrahim, Alhamdulillahirrabill 'aalimin wassalaatu wassalam ala nabiyyina Muhammad SAW wa ala aalihi wa ashabihi waman tabi'ahum bi ihsanin ila yaumiddin amma ba'd :

Tidak semua orang Islam memiliki aqidah yang sama dalam mensifati Allah. Permasalahan ini sudah sejak dulu menjadi perbincangan dan perselisihan pendapat antara kelompok aqidah yang satu dengan yang lainnya. Namun sebagaimana yang di katakan oleh Imam Malik rohimahullah dalam persoalan aqidah merupakan hal yang bid'ah. Beliau mengatakan "Allah menetap di atas Arsy merupakan suatu yang diketahui, dan menanyakan bagaimana-bagaiamana dengan hal menetapnya Allah di atas arsy-nya jelas kita tidak menjangkau hal itu, dan menanyakan hal tersebut adalah bid'ah".

Namun memang ada dalam agama Islam orang-orang yang punya perspektif-perspektif sendiri dalam menjelaskan sifat-sifat Allah, dan perspektif tersebut masih eksis sampai sekarang. Sehingga kita perlu mengetahui siapa dan bagaimanakah ide mereka, agar kita mengetahui bagaiamanakah aqidah yang sehat dan terhindar dari terjerumus kedalam aqidah yang menyimpang. Wal iyadzu billah.

Sempalan aqidah yang pertama adalah ATTAMTSIL (التمثيل), mereka adalah golongan yang menyamakan sifat Allah dengan makhluknya secara menyeluruh. Contohnya mereka mengartikan ayat-ayat yang berbunyi fisiknya Allah, mereka samakan bentuk fisiknya Allah itu dengan fisik makhluknya dan mereka menetapkan itu, yang mana sifat-sifat tersebut hanya layak untuk makhluk saja. Jadi ayat-ayat seperti Allah mendengar, mereka samakan dengan mendengarnya manusia, dalam Al Quran ada lafad والله بصيرٌ mereka mensifati Allah melihat tersebut sama dengan melihatnya manusia. Inilah yang disebut golongan Tamtsil (تمثيل). 

Sempalan aqidah yang kedua dikenal dengan nama ATTAHRIF atau bisa juga di sebut MUHARRIF (التحريف \ محرفون), Si pengotak atik atau lafadz. Golongan ini ada dua jenis, yaitu mentahrif lafadz dan mentahrif makna. Adapun golongan yang mentahrif lafadz ialah mereka-mereka yang memodifikasi suatu lafadz dengan menambah atau mengurangi baik huruf, lafadz maupun harakatnya. contohonya lafadz استوى yang jelas-jelas artinya adalah bersemayam mereka rubah dengan استولى yang artinya memrintah, atau contoh yang lain adalah mereka merubah ayat وجاء ربك yang artinya jelas-jelas Tuhan kamu telah datang, mereka tambahkan ayat tersebut satu lafadz di tengah ayat dengan lafadz أمر menjadi وجاء أمر ربك yang berubah arti dan telah datang perintah Tuhan mu. Contoh yang lain dari merubah harokat lafadz adalah kalimat وكلم اللهُ موسىَ yang bermakna Allah mengajak Nabi Musa ngobrol, mereka rubah harakat lafadz Allah yang awalanya berharakat dlommah menjadi fathah yaitu وكلم اللهَ موسى sehingga bermakna Musa mengajak Allah berbincang. 

Muharrif محرف jenis yang kedua adalah mereka-mereka yang menakwilkan ayat, yaitu menukarkan makna zahirnya suatu lafadz kepada makna lain tanpa dalil dari Al Quran dan Hadith sahih ataupun tanpa menggunakan bahasa Arab asli. Contohnya adalah wajah Allah mereka ta'wilkan dengan "Arrahmah الرحمة" atau يد الله yang artinya tangan Allah mereka ta'wilkan dengan kuasa Allah. 

Golongan yang ketiga dikenal dengan nama ATTA'TIL/MUATTILAH (التعطيل\معطلة) mereka adalah orang-orang yang menafikan sifat-sifat Allah atau orang-orang yang tidak suka apabila sifat-sifat Allah itu disamakan dengan makhluknya, mereka anti dengan penyetaraan Allah dengan makhluknya, sangat mengingkari hal tersebut sehingga mereka tidak bisa menerima ayat-ayat yang menunjukkan sifat fisik. 

Golongan yang keempat adalah ATTAKYIF/MUKAYYIF (التكييف\مكيف) , mereka yang mempersoalkan selalu sifat-sifat Allah yang telah ditetapkan dalam Al Quran maupun sunnah, padahal orang man dikehendaki beriman dengan segala nama-nama dan sifat-sifat Allah yang tertera dalam Al Quran dan Sunnah tanpa mempersoalkan bagaimana hakikat bentuk zat atau sifat-sifat tersebut atau malah mencoba untuk mengkaji secara mendalam berkenaan dengan sifat-sifat Allah. Tidak ada makhluk yang mengetahui hakikat zat Allah sebenarnya. Maka mustahil bagi mereka mengetahui hakikat nama-nama dan sifat Allah yang maha suci. karena Allah berfirman 


ولا يحيطون به علما 

Artinya : sedang ilmu mereka tidak dapat meliputinya. (Toha:110)
Share:

Video Tugas Matkul E Learning

Nama : Fadhilah Amin
Nim : 932506315

Video dibawah pengenalan profil perpustakaan IAIN Kediri. enyoy yaa


Share:

QIRO'AH AL QUR'AN


    Nama : Fadhilah Amin
    NIM : 9325063

      A. Pengertian Qiro’a


      Qiro’ah dari segi bahasa adalah bacaan. Sedangkan menurut istilah qiro’ah adalah suatu madhab yang di anut oleh seorang imam dalam membaca Al Quran yang berbeda satu dengan yang lainnya dalam pengucapan Al Qur’an serta di sepakati riwayat dan jalurnya, baik perbedaan dalam pengucapan huruf atau lafadnya.

Al Jazari mengartikan Qiro’ah sebagai pengetahuan tentang cara-cara melafalkan kalimat Al Qur’an dengan menyandarkan kepada penukilnya. Menurut Muhammad Maksil Arsyad perintis ilmu Qiro’ah diantarnya adalah, Abu Ubaid Al Qossim Ibnusalam, Abu Hatim Assajistani, Abu Ja’far Attobari dan Isma’il Al Qodi.

           B. Perbedaan Dalam Qiro’ah


      Ada beberapa macam madhab dalam ilmu Qiro’ah sedangkan madhab Qiro’ah yang sangat populer adalah Qiro’ah Sab’ah, Qiro’ah Asyaroh, Qiro’ah Arba’a Asyroh. Terjadinya perbedaan madhab Qiro’ah ini disebabkan oleh perbedaan intelektual serta kesempatan masing-masing sahabat dalam mengetahui dan membaca Al Quran.
     
     Faktor lain yang menyebabkan terjadinya perbedaan membaca Al Quran adalah hal tulisan. Qiroah yang paling terkenal adalah Qiro’ah sab’ah, di sebut qiroah sab’ah karena merujuk kepada 7 imam yang sangat terkenal. 7 imam tersebut adalah sebagai berikut :

      1. Abu Ma’bad Muhammad Abdullah bin Kadir bin Umar bin Zadin Al Daari Al Makki. Di            kenal sebagai nama Ibnu Kadir dari Mekkah.
      2. Abu Nu’aim Nafi’ bin Abdurrahman bin Abu Nu’aim Al Laitsi. Di kenal Imam Nafi’ dari            Isfahan.
      3. Imam Ashim bin Abi Ruju’ bin Bahdalah Al Asadi Al Kufi.
      4. Abu Imaroh Hamzah bin Habib Azzayad Al Fadi At Taimi dari Kufah.
      5. Abu Hasan Ali bin Hamzah bin Abdullah bin Fairuz Al Farisi Al Khuzai An Nahwi dari             Kufah.
      6.  Abu Amr Zabban bin Al A’la bin Ammar dari Basroh
      7. Imam Abu Nu’aim Abu Imron Abdullah bin Amir Asyafi’i dari Damaskus.

     C. Perkembangan Ilmu Qiro’ah
     
     Pada dasarnya ilmu qiroah sudah ada sejak zaman Rosulullah SAW. Hanya saja, pada saat itu ilmu qiroah terbatas pada sahabat yang secara khusus menekuni bacaan Al Quran, mengajarkan dan mempelajarinya. Para sahabat ini selalu ingin mengetahui ayat yang di turunkan kepada Rasulullah. Untuk itu, mereka kemudian menghafalkannya bahkan membacakannya dihadapan Nabi untuk di simak.

     Ilmu Qiroah baru di bukukan pada abad ke 3 hijriah. Para ahli sejarah mengatakan bahwa orang yang berjasa menuliskan ilmu qiroah adalah Imam Abu Ubaid Al Qosim bin Salam. Ia menulis yang menghimpun qira’ah dari 25 orang rawi, dan menamainya dengan kitab qiro’ah.

    Menurut Ibnu Jazari, antusiasme para ulama terhadap ilmu qiroah di latar belakangi oleh maraknya kebohongan yang di lakukan para musuh islam terhadap Al Quran. Pada saat yang bersamaan, ilmu mengenai Al Quran dan Hadist sudah memiliki cabang. Alasan lainnya adalah berkaitan dengan kaum muslim yang sangat memerlukan ilmu qiroah sebagai upaya menjaga dan memelihara Al Quran dari perubahan dan pemutar balikan yang di lakukan oleh musuh-musuh Islam.
   
      Para membuat beberapa persyaratan untuk menentukan qiroah yang benar dan di terima serta yang salah dan harus di tolak. Beberapa persyaratan itu adalah sebagai berikut 
1.     Qiroah harus sesuai dengan kaidah bahasa arab.
2.     Qiroah harus sesuai dengan salah satu mushaf Utsmani.
3.     Qiroah harus sohih sanadnya.

Dalam menentukan kesohihan sanad qiroah, Ibnu Jazari membuat beberapa kelompok :

1.  Qiroah Mutawatir,  Yakni qiroah yang diriwayatkan oleh sejumlah rawi yang banyak dan juga periwayat yang banyak pula, sehingga tidak mungkin mereka bersepakat untuk berdusta. Qiroah sab’ah menurut jumhur ulama’ termasuk qiraah yang mutawatir.
2. Qiroah Masyhur, yaitu qiroah yang sanadnya bersambung, tetapi hanya diriwayatkan oleh seorang atau beberapa orang yang adil dan tsiqah, sesuai dengan bahasa arab, sesuai dengan salah satu mushaf Utsmani baik berasal dari imam 7, 10 atau yang lain yang diakui.
3.   Qiraah Ahad, yaitu qiroah yang sanadnya sohih tapi menyalahi mushaf Utsmani atau kaidah bahasa arab, atau tidak populer seperti qiroah mutawati dan masyhur. Qiroah ini tidak boleh di baca dan tidak wajib di yaikini seperti riwatnya Al Hakim dari Ashim Al Jahbari dari Abi Bakroh yang menyatakan bahwa Rasulullah pernah membaca لَقَدْ جَاءَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ dengan لَقَدْ جَاءَكُمْ مِنْ أَنْفَسِكُمْ .
4.   Qiroah Syad, yakni qiroah yang sanadnya cacat dan tidak bersambung kepada Rasulullah.
5.     Qiroah Maudu’, yakni qiroah yang di nisbatkan kepada seseorang tanpa dasar.
6. Qiroah Mudraj, yakni qiroah yang di dalamnya terdapat lafad atau kalimat tambahan yang biasanya di jadikan penafsiran bagi ayat Al Quran, seperti qiroah Ibnu Abbas ; ليس عليكم جناح أن تبتغوا فضلا من ربكم yang kemudian di tambah dengan kalimat في مواسم الحج .

Share:

PESANTREN

Nama : Fadhilah Amin
NIM : 932506315

Tulisan ini saya ambil dari buku Pesantren Madrasah dan Sekolah yang di tulis oleh Karel Steenbrink yang mana dalam buku tersebut membahas perjalanan historis lembaga pendidikan Islam dan buku dosen saya bapak Anis Humaidi yang kebetulan mengisi materi di kelas tarjamah Indonesia - Arab dengan teks pondok pesantren.

Sebagaimana yang kita sama-sama ketahui bahwa negara Indonesia kuno terdapat banyak sekali para cendekiawan-cendekiawan Islam, para ulama dan para kyai yang hidup di tahun 1970an sudah berupaya membangun intelektual masyarakat Indonesia dengan berbagai cara, salah satu di antara nya adalah dengan membangun pesantren.

Untuk mendapatkan wawasan dan pengetahuan yang banyak para pemuda Indonesia tidak sedikit yang menimba ilmu di luar negri tepatnya di negri sumber agama Islam itu muncul. Di antara pemuda-pemuda Indonesia yang menjadi tokoh sejarah pembangun spritiual dan intelektual bangsa kita adalah KH. Hasyim Asy'ari dan KH. Ahmad Dahlan. Setelah kepulangan merekalah usaha untuk membangun intelektual dan spiritual masyarakat di hidupkan, salah satunya adalah dengan membangun pesantren.


A. Pengertian Pesantren

Secara termonologis dapat dijelaskan bahwa pendidikan pesantren dilihat dari segi bentuk dan sistemnya, berasal dari India. Sebelum proses penyebaran Islam di Indonesia, sistem tersebut telah dipergunakan secara umum untuk pendidikan dan pengajaran agama Hindu di Jawa. istilah pesantren sendiri seperti halnya mengaji bukanlah berasal dari istilah Arab, melainkan dari India. demikian juga istilah pondok, langgar di Jawa, surau di Minangkabau dan rangkang di Aceh bukanlah merupakan istilah Arab, tetapi dari istilah yang terdapat di India.

Namun di sisi lain Soegarda Poerbakawatja yang mengatakan kalau sistem pendidikan pesantren itu dari Hindu dan bukan dari Islam ternyata kurang tepat. Karena sistem tersebut di temukan di dunia Islam. begitu juga kebiasaan santri yang sering mengadakan perjalanan yang di temukan di Jawa ternyata di temukan pula di dalam tradisi Islam.

Mahmud Junus menyatakan bahwa asal-usul pendidikan individual yang dipergunakan dalam pesantren contohnya bahasa Arab ternyata dapat di temukan di Bagdad ketika menjadi pusat ibu kota Islam.

Mujamil Qomar mengidentifikasi asal-usul pesantren ini menjadi tujuh teori : pertama menyatakan bahwa pondok pesantren adalah tiruan atau adaptasi terhadap pendidikan Hindu dan Budha sebelum datangya Islam di Indonesia. Kedua pesantren berasal dari India. Ketiga model pendidikan pesantren ditemukan di Baghdad. Keempat sistem pendidikan berasal dari perpaduan antara Hindu-Budha (pra Islam di Indonesia) dan India. Kelima pesantren merupakan gabungan Hindu-Budha dan Arab. Keenam pesantren berasal dari India dan Islam Indonesia. Ketujuh pesantren dari India, Timur Tengah, dan tradisi lokal yang sudah tua. 

Istilah lain dari pesantren adalah pondok. Istilah pondok berasal dari bahasa Arab "funduk" (فندوق) yang berarti penginapan. Khusus di Aceh, pesantren disibut juga dengan nama dayah. Pendapat lainnya, pesantren berasal dari kata santri yang dapat diartikan tempat santri. Kata santri berasal dari kata cantrik (bahasa sansakerta, atau jawa) yang berarti orang yang selalu mengikuti guru, yang kemudian dikembangkan oleh Perguruan Taman Siswa dalam sistem asrama yang disebut Pawitan. 

Sedangkan C.C Berg berpendapat bahwa istilah santri itu berasal dari kata sashtri, yang dalam bahasa India berarti orang yang tahu buku-buku suci agama Hindu atau seorang ahli kitab suci agama Hindu. 

B. Sistem Pendidikan Pesantren

Sebagai lembaga pendidikan tentunya pesantren memiliki tujuan yang hendak dicapai, hanya saja sampai hari ini belum ada rumusan tujuan pendidikan pesantren yang baku. Biasanya masing-masing pesantren memiliki tujuan pendidikannya sendiri-sendiri sesuai dengan selera kyai yang mengasuh pondok tersebut. sekalipun sampai saat ini belum ada keragaman tujuan namun sebenarnya ada tujuan yang secara umum setiap pondok menyepakatina yaitu sebagaimana yang tertera dalam kitab ta'lim muta'allim

وينبغى أن ينوي المتعلم بطلب العلم رضا الله تعالى والدار الأخرة وازلة الجهل عن نفسه وعن سائر الجهال واحياء الدين وابقاء الإسلام

Artinya : Bahwa seyogyanya seorang santri dalam mencari ilmu mengharap ridla Allah dan hari akhir, menghilangkan kebodohan dari dirinya dan dari orang-orang yang bodoh, menghidupkan agama dan menetapkan Islam. 

Bila dilihat dari redaksinya, tujuan pendidikan pesantren ini sangat luas, sehingga sulit sekali di ukur keberhasilannya. Kebanyakan tidak memiliki rumusan tujuan yang spesifik, hal ini menurut Nurcholis Majid merupakan kelemahan dari sistem pendidikan pesantren sehingga tujuannya tidak dapat tertuang dalam tahapan-tahapan rencana kerja atau program.

Tidak adanya rumusan yang jelas itu dikarenakan adanya kecenderungan visi dan tujuan pesantren diserahkan pada proses improvisasi yang dipilih sendiri oleh seorang kyai atau bersama pembantu-pembantunya secara intuitif yang disesuaikan dengan perkembangan pesantrennya. Kalau kyainya menguasai bidang fiqih maka kecenderungan tujuan pendidikan pesantrennya menjadikan santri-santri alim dalam bidang fiqih, demikian juga kalau kyainya alim dalam bidang yang lainnya seperti nahwu atau lainnya santrinya akan digiring pada keahlian kyai tersebut. 

C. Metode Pembelajaran Pesantren

Di pondok pesantren ada dua jenis metode pembelajaran yang sangat terkenal yaitu metode sorogan dan metode bandongan. Metode sorogan adalah seorang murid datang pada guru yang akan membacakan beberapa baris Al-Quran atau kitab-kitab yang berbahasa Arab dan menterjemahkan menggunakan bahasa jawa. Pada gilirannya murid mengulangi dan menterjemahkan kata demi kata persis seperti yang dibacakan oleh gurunya. 

Metode ini memiliki banyak kelebihan, diantaranya murid mendapat perhatian utuh dari seorang kiyai atau guru, murid akan belajar dengan sungguh-sungguh karena akan malu kalau tidak lancar membaca di hadapan kyainya. Murid bisa menghafalkan mufradat dan memahami gramatikal bahasa Arab dengan cepat dan mudah serta guru dapat menilai dan membimbing murid. Sistem sorogan ini menurut Dhofier merupakan bagian yang paling sulit dari keseluruhan sistem pendidikan Islam tradisional sebab ini menuntut kesabaran, kerajinan, ketaatan dan disiplin dari murid. 

Namun demikian bukan berarti metode ini tidak memiliki kekurangan diantara kekurangan dari metode ini adalah memerlukan tenaga dan waktu yang banyak sehingga tidak efektif jika jumlah santri banyak dan ustadz atau kyai hanya sedikit. 

Sedangkan metode bandongan atau weton adalah kelompok murid antara 5 sampai 500 orang mendengarkan seorang guru yang membaca, menerjemahkan, menerangkan dan seringkali mengulas buku-buku Islam dalam bahasa Arab. Setiap murid memperhatikan bukunya sendiri-sendiri dan membuat catatan-catatan baik arti maupun keterangan tentang kata-kata atau keterangan yang sulit. Dalam kegiatan ini tidak ada absen, santri boleh tidak datang dan boleh tidak, juga tidak ada kenaikan kelas. Dalam metode ini tidak ada evaluasi. Bagi santri yang sudah khatam bisa berpindah ikut pengajian kitab yang atasnya. 

Selain kedua metode ini Imron Arifin menambahkan lagi tiga metode yang lainnya yaitu Muhawarah, Mudazakarah, dan Majlis Ta'lim. Muhawarah adalah latihan berbicara bahasa Arab. Sedangkan Mudzakarah adalah pertemuan ilmiah untuk membahas masalah-masalah diniyah seperti ibadah dan akidah. Majlis Ta'lim adalah pengajian umum yang diikuti oleh santri sedangkan kyai berpidato dengan memberikan petuah-petuah. 
Share:

Postingan Populer

Recent Posts

Pages