Bismillahirrahmaanirrahim, Alhamdulillahirrabill 'aalimin wassalaatu wassalam ala nabiyyina Muhammad SAW wa ala aalihi wa ashabihi waman tabi'ahum bi ihsanin ila yaumiddin amma ba'd :
Tidak semua orang Islam memiliki aqidah yang sama dalam mensifati Allah. Permasalahan ini sudah sejak dulu menjadi perbincangan dan perselisihan pendapat antara kelompok aqidah yang satu dengan yang lainnya. Namun sebagaimana yang di katakan oleh Imam Malik rohimahullah dalam persoalan aqidah merupakan hal yang bid'ah. Beliau mengatakan "Allah menetap di atas Arsy merupakan suatu yang diketahui, dan menanyakan bagaimana-bagaiamana dengan hal menetapnya Allah di atas arsy-nya jelas kita tidak menjangkau hal itu, dan menanyakan hal tersebut adalah bid'ah".
Tidak semua orang Islam memiliki aqidah yang sama dalam mensifati Allah. Permasalahan ini sudah sejak dulu menjadi perbincangan dan perselisihan pendapat antara kelompok aqidah yang satu dengan yang lainnya. Namun sebagaimana yang di katakan oleh Imam Malik rohimahullah dalam persoalan aqidah merupakan hal yang bid'ah. Beliau mengatakan "Allah menetap di atas Arsy merupakan suatu yang diketahui, dan menanyakan bagaimana-bagaiamana dengan hal menetapnya Allah di atas arsy-nya jelas kita tidak menjangkau hal itu, dan menanyakan hal tersebut adalah bid'ah".
Namun memang ada dalam agama Islam orang-orang yang punya perspektif-perspektif sendiri dalam menjelaskan sifat-sifat Allah, dan perspektif tersebut masih eksis sampai sekarang. Sehingga kita perlu mengetahui siapa dan bagaimanakah ide mereka, agar kita mengetahui bagaiamanakah aqidah yang sehat dan terhindar dari terjerumus kedalam aqidah yang menyimpang. Wal iyadzu billah.
Sempalan aqidah yang pertama adalah ATTAMTSIL (التمثيل), mereka adalah golongan yang menyamakan sifat Allah dengan makhluknya secara menyeluruh. Contohnya mereka mengartikan ayat-ayat yang berbunyi fisiknya Allah, mereka samakan bentuk fisiknya Allah itu dengan fisik makhluknya dan mereka menetapkan itu, yang mana sifat-sifat tersebut hanya layak untuk makhluk saja. Jadi ayat-ayat seperti Allah mendengar, mereka samakan dengan mendengarnya manusia, dalam Al Quran ada lafad والله بصيرٌ mereka mensifati Allah melihat tersebut sama dengan melihatnya manusia. Inilah yang disebut golongan Tamtsil (تمثيل).
Sempalan aqidah yang kedua dikenal dengan nama ATTAHRIF atau bisa juga di sebut MUHARRIF (التحريف \ محرفون), Si pengotak atik atau lafadz. Golongan ini ada dua jenis, yaitu mentahrif lafadz dan mentahrif makna. Adapun golongan yang mentahrif lafadz ialah mereka-mereka yang memodifikasi suatu lafadz dengan menambah atau mengurangi baik huruf, lafadz maupun harakatnya. contohonya lafadz استوى yang jelas-jelas artinya adalah bersemayam mereka rubah dengan استولى yang artinya memrintah, atau contoh yang lain adalah mereka merubah ayat وجاء ربك yang artinya jelas-jelas Tuhan kamu telah datang, mereka tambahkan ayat tersebut satu lafadz di tengah ayat dengan lafadz أمر menjadi وجاء أمر ربك yang berubah arti dan telah datang perintah Tuhan mu. Contoh yang lain dari merubah harokat lafadz adalah kalimat وكلم اللهُ موسىَ yang bermakna Allah mengajak Nabi Musa ngobrol, mereka rubah harakat lafadz Allah yang awalanya berharakat dlommah menjadi fathah yaitu وكلم اللهَ موسى sehingga bermakna Musa mengajak Allah berbincang.
Muharrif محرف jenis yang kedua adalah mereka-mereka yang menakwilkan ayat, yaitu menukarkan makna zahirnya suatu lafadz kepada makna lain tanpa dalil dari Al Quran dan Hadith sahih ataupun tanpa menggunakan bahasa Arab asli. Contohnya adalah wajah Allah mereka ta'wilkan dengan "Arrahmah الرحمة" atau يد الله yang artinya tangan Allah mereka ta'wilkan dengan kuasa Allah.
Golongan yang ketiga dikenal dengan nama ATTA'TIL/MUATTILAH (التعطيل\معطلة) mereka adalah orang-orang yang menafikan sifat-sifat Allah atau orang-orang yang tidak suka apabila sifat-sifat Allah itu disamakan dengan makhluknya, mereka anti dengan penyetaraan Allah dengan makhluknya, sangat mengingkari hal tersebut sehingga mereka tidak bisa menerima ayat-ayat yang menunjukkan sifat fisik.
Golongan yang keempat adalah ATTAKYIF/MUKAYYIF (التكييف\مكيف) , mereka yang mempersoalkan selalu sifat-sifat Allah yang telah ditetapkan dalam Al Quran maupun sunnah, padahal orang man dikehendaki beriman dengan segala nama-nama dan sifat-sifat Allah yang tertera dalam Al Quran dan Sunnah tanpa mempersoalkan bagaimana hakikat bentuk zat atau sifat-sifat tersebut atau malah mencoba untuk mengkaji secara mendalam berkenaan dengan sifat-sifat Allah. Tidak ada makhluk yang mengetahui hakikat zat Allah sebenarnya. Maka mustahil bagi mereka mengetahui hakikat nama-nama dan sifat Allah yang maha suci. karena Allah berfirman
Muharrif محرف jenis yang kedua adalah mereka-mereka yang menakwilkan ayat, yaitu menukarkan makna zahirnya suatu lafadz kepada makna lain tanpa dalil dari Al Quran dan Hadith sahih ataupun tanpa menggunakan bahasa Arab asli. Contohnya adalah wajah Allah mereka ta'wilkan dengan "Arrahmah الرحمة" atau يد الله yang artinya tangan Allah mereka ta'wilkan dengan kuasa Allah.
Golongan yang ketiga dikenal dengan nama ATTA'TIL/MUATTILAH (التعطيل\معطلة) mereka adalah orang-orang yang menafikan sifat-sifat Allah atau orang-orang yang tidak suka apabila sifat-sifat Allah itu disamakan dengan makhluknya, mereka anti dengan penyetaraan Allah dengan makhluknya, sangat mengingkari hal tersebut sehingga mereka tidak bisa menerima ayat-ayat yang menunjukkan sifat fisik.
Golongan yang keempat adalah ATTAKYIF/MUKAYYIF (التكييف\مكيف) , mereka yang mempersoalkan selalu sifat-sifat Allah yang telah ditetapkan dalam Al Quran maupun sunnah, padahal orang man dikehendaki beriman dengan segala nama-nama dan sifat-sifat Allah yang tertera dalam Al Quran dan Sunnah tanpa mempersoalkan bagaimana hakikat bentuk zat atau sifat-sifat tersebut atau malah mencoba untuk mengkaji secara mendalam berkenaan dengan sifat-sifat Allah. Tidak ada makhluk yang mengetahui hakikat zat Allah sebenarnya. Maka mustahil bagi mereka mengetahui hakikat nama-nama dan sifat Allah yang maha suci. karena Allah berfirman
ولا يحيطون به علما
Artinya : sedang ilmu mereka tidak dapat meliputinya. (Toha:110)







Tidak ada komentar:
Posting Komentar